PTK SMA BAHASA INGGRIS METODE ROLE PLAY (BAB II)



BAB II
KAJIAN PUSTAKA
A.      Kajian Teori

1.   Pengertian Belajar dan Pembelajaran

Setiap orang, baik disadari atau tidak sering melakukan kegiatan belajar. Misalnya kegiatan harian yang dimulai dari bangun tidur sampai tidur kembali akan selalu diwarnai dengan kegiatan belajar. Contoh lain yaitu apabila kita melihat seorang petani yang mencangkul, maka yang kita pikirkan adalah betapa beratnya kehidupan petani untuk menghasilkan bahan makanan, sehingga muncul perasaan menghargai jerih payah seorang petani. Ilustrasi ini,  menunjukkan adanya pengalaman belajar yang menghasilkan perubahan perilaku berupa tindakan menghargai karya petani tersebut.
Belajar merupakan proses dimana suatu organisme mengubah perilakunya karena proses pengalamannya (Gagne dan Berliner dalam Chatarina, 2007: 2). Belajar merupakan proses internal yang kompleks, dimana yang terlibat dalam proses internal tersebut adalah seluruh mental yang meliputi ranahranah kognitif, afektif dan psikomotor. Proses belajar yang mengaktualisasikan ranahranah tersebut tertuju pada bahan pelajaran tertentu (Dimyanti, 2009:18).
Pengertian belajar yang komperensif diberikan oleh BellGredler (dalam Udin,2008:1.5) yang menyatakan bahwa belajar adalah proses yang dilakukan manusia untuk mendapatkan aneka ragam competencies, skills dan attitudes.
Konsep tentang belajar mengandung tiga unsur, yaitu :
a.    Belajar berkaitan dengan perubahan perilaku
Perilaku mengacu pada suatu tindakan atau berbagai tindakan. Perilaku yang tampak (overt behavior) seperti berbicara, menulis puisi, mengerjakan matematika dapat memberi pemahaman tentang perubahan perilaku seseorang. Untuk mengukur apakah seseorang telah belajar atau belum belajar diperlukan adanya perbadingan antara perilaku sebelum dan sesudah mengalami kegiatan belajar. Apabila terjadi perbedaan perilaku, maka dapat disimpulkan bahwa itu telah belajar. Perilaku tersebut dapat diwujudkan dalam bentuk seperti menulis, membaca dan menghitung.
b.    Perubahan perilaku terjadi karena didahului oleh proses pengalaman.
Pengalaman dapat  membatasi jenis-jenis       perubahan perilaku yang dipandang mencerminkan belajar. Pengalaman dalam pengertian belajar dapat berupa pengalaman fisik, psikis, dan sosial. Oleh karena itu, perubahan perilaku yang disebabkan oleh faktor obatobatan adaptasi, pengindraan dan kekuatan mekanik, misalnya: perubahan yang dipandang sebagai perubahan pengalaman.
c.    Perubahan perilaku karena belajar bersifat relatif permanen

11
Lamanya perilaku yang terjadi pada diri seseorang sukar untuk diukur dan dapat berlangsung selama satu hari, satu bulan bahkan bertahuntahun. Tindakan berfikir yang dilakukan oleh seseorang akan memunculkan sikap terhadap orang lain atau peristiwa yang dapat membuatnya senang atau takut. Cara seseorang mengenakan pakaian, makan pagi, memikirkan sesuatu dan memikirkan orang lain atau suatu  peristiwa, semuanya  itu berakar  dari pengalaman masa lalu   atau akibat dari belajar yang berlangsung di masa lalu. Oleh karena itu, apabila seseorang mampu memahami proses belajar dan menerapkan pengetahuan yang diperoleh dari belajar pada kehidupan nyata, maka ia mampu menjelaskan sesuatu yang ada di lingkungannya. Demikian pula, jika seseorang memahami prinsipprinsip belajar, maka akan mampu mengubah perilaku seperti yang diinginkan.
Tujuan belajar adalah sejumlah hasil belajar yang menunjukan bahwa siswa telah melakukan perbuatan belajar yang pada umumnya meliputi penetahuan, keterampilan, dan sikapsikap yang baru yang diharapkan tercapai oleh siswa. Tujuan belajar adalah suatu diskripsi mengenai tingkah laku yang diharapkan tercapai oleh siswa setelah berlangsungnya proses belajar. Tujuan belajar merupakan cara yang akurat untuk menetukan hasil pembelajaran. Tujuan pembelajaran dan tujuan belajar berbeda namun berhubungan erat antara satu dengan yang lainnya (Hamalik,2010:73).

2.   Faktor-faktor yang mempengaruhi belajar

Berhasil atau tidaknya seseorang dalam proses pembelajaran di sebabkan oleh beberapa faktor. menurut Chatarina, dkk (2006:13) seperangkat faktor yang mempengaruhi belajar adalah kondisi internal dan eksternal, kondisi internal meliputi: kondisi fisik dan kondisi psikis sedangkan eksternal meliputi kondisi sosial seperti kemampuan bersosialisasi dengan lingkungan
Menurut Hamalik (2008:50) ada beberapa unsur yang mempengaruhi proses belajar, yaitu (1) motivasi belajar (membutuhkan rangsangan dari luar agar timbul  motivasi  belajar), (2) bahan belajar, (3) alat  bantu  belajar (agar  kegiatan belajar berjalan lebih efektif dan efisien), (4) suasana belajar, (5) kondisi subyek belajar.

a.    Pembelajaran

Istilah pembelajaran merupakan istilah baru yang digunakan untuk menunjukan kegiatan guru dan siswa, sebelumnya di kenal istilah “proses belajarmenggajar” dan “pengajaran”. Istilah pembelajaran merupakan terjemahan dari kata “instruction”. Menurut Gagne (dalam Udin ,2008:1.19) pembelajaran adalah serangkaian kegiatan yang di rancang untuk memungkinkan terjadinya proses belajar pada diri siswa. Menurut sumber lain ada yang mengatakan bahwa Pembelajaran adalah Proses interaksi peserta didik dengan pendidik dan sumber belajar pada suatu lingkungan belajar ( UU No. 20/2003, Bab I Pasal Ayat 20 ).
Menurut Briggs (dalam Sugandi, 2006: 9) mengatakan bahwa pembelajaran adalah seperangkat peristiwa yang mempengaruhi si pembelajar sedemikian rupa sehingga si belajar itu memperoleh kemudahan dalam berinteraksi berikutnya dengan lingkungan.
Proses pembelajaran dialami sepanjang hayat seorang manusia serta dapat berlaku dimanapun dan kapanpun. Pembelajaran mempunyai pengertian yang mirip dengan pengajaran, walaupun mempunyai konotasi yang berbeda. Dalam konteks pendidikan, guru mengajar supaya peserta didik dapat belajar dan menguasai isi pelajaran hingga mencapai sesuatu objektif yang ditentukan (aspek kognitif ), juga dapat mempengaruhi perubahan sikap (aspek afektif), serta keterampilan (aspek psikomotor) seseorang peserta didik. Pengajaran memberi kesan hanya   sebagai pekerjaan satu pihak, yaitu pekerjaan guru saja.Sedangkan pembelajaran juga menyiratkan adanya interaksi antara guru dengan peserta didik.
Meurut Hamalik (2010:57) pembelajaran adalah suatu kombinasi yang tersusun meliputi unsurunsur manusiawi, materials, fasilitas, perlengkapan, dan prosedur yang saling mempengaruhi mencapai tujuan pembelajaran.
Kata pembelajaran sering di kenal dan digunakan karena mengacu pada segala kegitan yang berpengaruh langsung terhadap proses belajar siswa. Pembelajaran merupakan kegiatan yang dilakukan untuk memfasilitasi, dan meningkatkan intensitas dan kualitas belajar pada diri peserta didik. Oleh karena pembelajaran merupakan upaya sistematis dan sistemik untuk menginisiasi, memfalitasi, dan meningkatkan proses belajar maka kegiatan pembelajaran berkaitan erat dengan jenis hakikat jenis belajar serta hasil belajar tersebut. Pembelajaran harus menghasilkan belajar, tapi tidak semua proses belajar terjadi karena proses pembelajaran. Proses belajar terjadi juga dalam konteks interaksi sosialkultural dalam lingkungan masyarakat.
Pembelajaran dalam konteks pendidikan formal yakni pendidikan di sekolah, sebagian besar terjadi di kelas dan lingkungan sekolah. Sebagian kecil pembelajaran terjadi juga di lingkuan masyarakat, misalnya: pada kegiatan kokurikuler yakni suatu kegiatan di luar kelas berkaitan dengan tugas suatu mata pelajaran, kegitan ekstrakulikuler yakni kegitan di luar mata pelajaran serta dilakukan di luar kelas. Dengan demikian maka proses belajar bisa terjadi di dalam kelas, dalam lingkungan sekolah serta di lingkungan masyarakat. Dalam konteks   pendidikan nonformal justru sebaliknya, proses pembelajaran sebagian terjadi di lingkungan masyarakat, termasuk dunia kerja, media masa dan dunia internet.
Menurut Nurgiyantoro (1995:276) berbicara adalah aktivitas berbahasa kedua yang dilakukan manusia dalam kehidupan berbahasa, yaitu setelah aktivitas mendengarkan. Berdasarkan bunyi-bunyi yang didengar itu, kemudian manusia belajar untuk mengucapkan dan  akhirnya terampil berbicara. Berbicara diartikan sebagai kemampuan mengucapkan bunyi-bunyi artikulasi atau kata-kata untuk mengekspresikan, menyatakan dan menyampaikan pikiran, gagasan,serta perasaan (Tarigan, 1983:14). Dapat dikatakan bahwa berbicara merupakan suatu sistem tanda-tanda yang dapat didengar  (audible) dan yang kelihatan  (visible)  yang memanfaatkan sejumlah otot tubuh manusia demi maksud  dan tujuan gagasan atau ideide yang dikombinasikan. Berbicara merupakan suatu bentuk perilaku manusia yang memanfaatkan faktor-faktor fisik, psikologis, neurologis,semantik, dan linguistik.Berdasarkan pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa berbicara diartikan sebagai suatu alat untuk mengkombinasikan gagasan-gagasan yang disusun serta mengembangkan sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan sang pendengar atau penyimak.
Berbicara merupakan instrumen yang mengungkapkan kepada penyimak hampir-hampir secara langsung apakah sang pembicara memahami atau tidak baik bahan pembicaraan maupun para penyimaknya, apakah dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia bersikap tenang serta dapat menyesuaikan diri atau tidak, pada saat dia mengkombinasikan gagasan-gagasannya apakah dia waspada serta antusias ataukah tidak.

4.    Pembelajaran Bahasa Inggris

Ruang lingkup mata pelajaran Bahasa Inggris di SMA/MA meliputi:
a.         Kemampuan berwacana, yakni kemampuan memahami dan/atau menghasilkan teks lisan dan/atau tulis yang direalisasikan dalam empat keterampilan berbahasa, yakni mendengarkan, berbicara, membaca dan menulis secara terpadu untuk mencapai tingkat literasi informational;
b.         Kemampuan memahami dan menciptakan berbagai teks fungsional pendek dan monolog serta esei berbentuk procedure, descriptive, recount,narrative, report, newsitem, analytical exposition, hortatory exposition,spoof, explanation, discussion, review, publicspeaking. 
Gradasi bahan ajar tampak dalam penggunaan kosa kata, tata bahasa, dan langkah-langkah retorika;
b.         Kompetensi pendukung, yakni kompetensi linguistik (menggunakan tata bahasa dan kosa kata, tata bunyi, tata tulis), kompetensi sosiokultural (menggunakan ungkapan dan tindak bahasa secara berterima dalam berbagai konteks komunikasi), kompetensi strategi (mengatasi masalah yang timbul dalam proses komunikasi dengan berbagai cara agar komunikasi tetap berlangsung), dan kompetensi pembentuk wacana (menggunakan piranti pembentuk wacana).

5.    Tujuan Pembelajaran Bahasa Inggris

Mata Pelajaran Bahasa Inggris di SMA/MA bertujuan agar peserta didik memiliki kemampuan sebagai berikut.
a.    Mengembangkan kompetensi berkomunikasi dalam bentuk lisan dan tulis untuk mencapai tingkat literasi informational  
b.    Memiliki kesadaran tentang hakikat dan pentingnya bahasa Inggris untuk meningkatkan daya saing bangsa dalam masyarakat global
c.    Mengembangkan  pemahaman peserta didik tentang keterkaitan antara bahasa dengan budaya.
Menentukan strategi pembelajaran, menurut Fenton (dalam Isjoni, 2007:108) sebaliknnya terlebih dahulu dipahami kemampuan kondisi awal siswa. Jika sebelumnnya belum banyak memahami materi yang direncanakan guru karena relatif baru, pendekatan yang digunakan lebih relevan seperti Model ceramah. Sebelum mengaktifkan model pembelajaran Role Playing ini guru terlebih dahulu menggunakan Model belajar ceramah guna mengaktifkan aspek kognitif siswa sebelum masuk dalam pembelajaran dengan model Role Playing yang cenderung lebih baru.

a.    Model Pembelajaran

Menurut Joyce (dalam Trianto, 2007:5), Model Pembelajaran adalah suatu perencanaan atau suatu pola yang digunakan sebagai pedoman dalam merencanakan pembelajaran di kelas atau pembelajaran dalam tutorial dan untuk menetukan perangkatperangkat pembelajaran termasuk di dalamnnya bukubuku, film, computer, kurikulum dan lainlain.
Menurut Udin Winata Putra (dalam Novitasari, 2010; 3) Model Pembelajaran dapat diartikan sebagai kerangka konseptual yang melukiskan prosedur yang sistematik dalam mengorganisasikan pengalaman belajar untuk mencapai    tujuan belajar tertentu dan berfungsi sebagai pedoman bagi perancang pengajaran dan para guru dalam perencanaan dan pelaksanaan aktivitas belajar mengajar.
Model Pembelajaran Role Playing termasuk dalam model pembelajaran sosial, mengapa dikatakan model pembelajaran sosial? Karena pendekatan pembelajaran yang termasuk dalam kategori model ini menekankan hubungan individu dengan masyarakat atau orang lain. Modelmodel dalam kategori ini difokuskan pada peningkatan kemampuan individu dalam berhubungan dengan orang lain, terlibat dalam proses demokratis dan bekerja secara produktif dalam masyarakat( Hamzah, 2009: 25).
b.    Model Pembelajaran Role Playing
Role Playing berasal dari kata simulate yang artinya berpurapura atau berbuat seakanakan. Sebagai model mengajar, Role Playing dapat diartikan cara penyajian pengalaman belajar dengan menggunakan situasi tiruan untuk memahami tentang konsep, prinsip, atau keterampilan tertentu.
Model Pembelajaran Role Playing adalahTingkah laku seseorang untuk berlaku seperti orang yang dimaksudkan, dengan tujuan agar orang itu dapat mempelajari lebih mendalam tentang bagaimana orang itu merasa dan berbuat sesuatu. Jadi siswa itu berlatih memegang peranan sebagai orang lain.
Model Pembelajaran Role Playing merupakan model pembelajaran yang membuat suatu peniruan terhadap sesuatu yang nyata, terhadap keadaan sekelilingnya (state of affaris) atau proses. Model pembelajaran ini dirancang untuk membantu siswa mengalami bermacammacam proses dan kenyataan sosial    dan untuk menguji reaksi mereka, serta untuk memperoleh konsep keterampilan pembuatan keputusan.
Role Playing pada hakekatnya merupakan usaha pembelajaran untuk memainkan kembali suatu insiden historis ataupun peristiwaperistiwa Bahasa Inggris. Role Playing juga mengambarkan secara artistik seluruh proses kehidupan manusia, merefleksikan hidup dalam pertentangan tokoh gerakan sosial yang timbul. oleh karena itu Role Playing di dasarkan pada karya kreatif, kemampuan untuk menampilkan kehidupan dari gambaran yang tak lengkap menjadi bentuk yang hidup dan bergairah dalam realitas objektif (Isjoni,2007:118). Tujuan Model Pembelajaran Role Playing adalah untuk memberikan contoh yang sebenarnya terjadi dalam kegiatan manusia yang kemudian menjadi kenyataan Bahasa Inggris (Kasmadi, 1996: 41). Pendekatan Model Pembelajaran Role Playing dirancang agar mendekati kenyataan dimana gerakan yang dianggap kompleks sengaja dikontrol,   misalnya, dalam proses Role Playing ini dilakukan dengan menggunakan simulator.
Apabila kita dalam mengajar meminta siswa untuk berpurapura menjadi seseorang, dengan maksud agar siswa dapat mempelajari lebih baik bagaimana perasaan dan tingkah laku seseorang, maka kita telah terlibat dalam penggunaan Model Role Playing.
Teknik Role Playing digunakan dalam semua sistem pengajaran, terutama dalam desain instruksional yang berorientasi pada tujuantujuan tingkah laku. Latihanlatihan keterampilan menuntut praktek yang di laksanakan dalam situasi yang nyata (dalam pengertian tertentu), atau dalam situasi Role Playing yang mengandung ciriciri situasi kehidupan senyatanya.
Model pembelajaran Role Playing sangat beragam jenisnya dan semuannya hampir dapat digunakan setiap proses pembelajaran di kelas, tergantung daya kreasi guru untuk menggunakan atau memadu padankan dari jenisjenis model Role Playing terebut, perlu ditekankan bahwa hendaknya penggunaaanya disesuaikan dengan karakter serta kemampuan dari para siswa sehingga tujuan akhir dari proses pembelajaran yang diharapkan dapat tercapai. Adapun jenisjenis dari model pembelajaran Role Playing yang umumnya digunakan dalam proses pembelajaran adalah: peer teaching, sosiodrama, psikodrama, permainan Role Playing.
c.    Tujuan Model Pembelajaran Role Playing.
Role Playing sebagai model mengajar menurut uraian Soli Abimanyu dan Ngalim Purwanto (dalam Sunaryo, 1989: 113). memiliki segenap tujuan dalam proses pembelajarannya seperti halnya jenisjenis model pembelajaran yang lain, dimana tujuantujuan model pembelajaran yang satu dengan tujuan model pembelajaran yang lainnya berbeda pula. pembelajaran Role Playing memiliki segenap tujuan, dimana tujuan tersebut menjadi secara tujuan langsung dan tujuan tidak langsung. di bawah ini merupakan tujuan langsung dan tujuan tidak langsung dari model pembelajaran Role Playing.
1)        Tujuan Langsung
a)          Melatih keterampilan tertentu, baik yang bersifat professional mau pun bagi kehidupan sehari-hari.
b)         Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip.
c)          Melatihan memecahkan masalah.
2)      Tujuan Tidak Langsung
a)          Meningkatkan aktifitas belajar dengan melihatkan dirinya dalam mempelajari situasi yang hampir serupa dengan kejadian yang sebenarnya.
b)         Memberikan motivasi belajar karena sangat menarik dan menyenangkan anakanak.
c)          Melatih anak bekerja sama dalam kelompok dengan lebih efektif.
d)         Menimbulkan dan memupuk daya kreatif anak.
e)          Melatih anak untuk memahami dan menghargai pendapat peranan orang lain.
d.   Pembelajaran Bermain Peran (Role Playing)
Bermain Peran atau Role Playing yang diselenggarakan dengan maksud untuk mengkreasi kembali peristiwaperistiwa Bahasa Inggris masa lampau, mengkreasi kemungkinankemungkinan masa depan, mengekspose kejadiankejadian masa kini dan sebagainya (Sunaryo, 1989:115).
Bermain Peran atau Role Playing, dapat di pilih dengan mempersiapkan naskahnya terlebih dahulu atau dapat pula tanpa naskah, cukup ringkasan alur ceritannya.dengan menggunakan naskah, maka pengajar Bahasa Inggris melatih siswa untuk menyusun naskah permainan atau pertunjukan singkat di kelas.naskah tidak hanya lakon Bahasa Inggris tetapi juga terdapat upaya untuk memahami dialek atau tatatata cara suatu kehidupan Bahasa Inggris yang dipelajari (Kasmadi,1996:43).
Keberhasilan model pembelajaran bermain peran tergantung dari kualitas permainan peran (enactment) yang diikuti dengan analisis terhadapnya, disamping itu tergantung persepsi siswa tentang peran yang dimainkan terhadap situasi yang nyata (real life situation).
Menurut Hamzah B. Uno,(2009:26) terdapat sembilan langkah dalam pembelajaran bermain peran ini, antara lain:
1)          Tahap Pemanasan, guru berupaya memperkenalkan siswa pada permasalahan yang mereka sadari sebagai suatu hal yang bagi semua orang perlu mempelajarinya. Bagian berikutnya dari proses pemanasan adalah menggambarkan permasalahan dengan jelas di sertai contoh
2)          Memilih pemain peran (partisipan). Siswa dan guru membahas karakter dari setiap pemain peran dan menentukan siapa yang akan memainkannya. Dalam pemilihan pemain ini, guru dapat memilih siswa yang sesuai memainkan peran atau siswa sendiri yang mengusulkan akan memainkan siapa dan mendeskripsikan peranperannya.
3)          Menata panggung, dalam hal ini guru mendiskusikan dengan siswa dimana dan bagaimana peran akan di mainkan. Apa saja yang dibutuhkan dan diperlukan.
4)          Guru mennujuk beberapa siswa sebagai pengamat. Namun, demikian penting untuk dicatat bahwa pengamat disini harus juga terlibat aktif dalam permainan peran.
5)          Permainan peran di mulai, para siswa mulai memainkan peran yang diperankan sesuai dengan  perannya masingmasing. permainan  peran dapat di laksanakan secara spontan atau dengan menggunakan bantuan naskah drama terlebih dahulu.
6)          Tahap evaluasi, guru bersamasama siswa mendiskusiokan permainan peran tadi dan melakukan evaluasi terhadap peranperan yang dilakukan.
7)          Setelah diskusi dan evaluasi selesai, di lanjutkan ke tahap selanjutnya yakni permainan peran di ulang kembali. Seharusnya, pada permainan peran ke dua ini akan berjalan lebih baik.
8)          Pembahasan diskusi dan evaluasi di arahkan pada realitas, dalam penelitian ini peran yang telah di mainkan di arahkan pada kejadian yang terdapat dalam alur cerita di buku pelajaran yang di pakai yakni buku Bahasa Inggris Nasional Indonesia II karangan Mawarti Djoenet poesponegoro.
9)          Pengambilan kesimpulan, siswa di ajak untuk berbagi pengalaman tentang tema permainanan peran yang telah dilakukan dan di lanjutkan dengan membuat kesimpulan.

B.       Kerangka berpikir

25
Proses pembelajaran yang baik adalah proses pembelajaran yang terjadi dua arah dari guru ke siswa dan dari siswa ke guru dengan mengutamakan keaktifan siswa, karena dengan begitu maka hasil belajar siswa akan mengalami peningkatan. Namun dalam prakteknya, proses pembelajaran yang terjadi di kelas masih didominasi guru sebagai satusatunya sumber materi. Akibat dari kondisi belajar  yang seperti  itu akan  membuat  siswa semakin  pasif  yang pada akhirnya pemahaman siswa dan hasil belajar akan menurun. Untuk mengatasi permasalahan yang ada tersebut, dibutuhkan sebuah model pembelajaran yang bisa membuat siswa aktif dan merasa nyaman tanpa rasa tertekan atau takut selama proses pembelajaran, yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Role Playing. Model Pembelajaran Role Playing ini akan melatih siswa untuk lebih mengaktifkan aspek kognitif, afektif serta psikomotor. Sehingga peserta didik akan terdorong untuk aktif berbicara, perpikir serta bertingkah laku dalam proses pembelajaran. Dengan penerapan model pembelajaran Role Playing ini diharapkan dapat meningkatkan kemampuan berbicara siswa selama poses pembelajaran berlangsung,
C.      Hipotesis Tindakan
Berdasarkan uraian yang telah dikemukakan sebelumnya, peneliti memformulasikan hipotesis sebagai berikut: “Dengan menggunakan metode role playing dalam proses pembelajaran yang dilakukan oleh peneliti adalah berkenaan dengan 3 aspek yaitu kognitif, psikomotorik dan afektif, maka kemampuan berbicara mengungkapkan Offers and Suggestions dalam bahasa Inggris siswa kelas XI IPA 1 SMA Negeri 1 ..... diharapkan dapat meningkat.

Selanjutnya di BAB III : METODE PENELITIAN

0 Response to "PTK SMA BAHASA INGGRIS METODE ROLE PLAY (BAB II)"

Posting Komentar

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel